Langsung ke konten utama

Gegara Gak [Peka] sama RencanaNya atau memang sudah Takdir (?)


Kadang Masih bingung mana baik, mana yang buruk. Ujung ujungnya nyesel. Entah yang sedang terjadi itu emang takdir. Apa emng  akibat ke tidak-pekaan ku terhadap rencanaNya.

Contoh kecilnya bangun pagi. Gatau kenapa meskipun badan capek, pegel tapi bisa bangun pagi. Karna lagi ga ada tanggungan akhirnya mikir mikir lagi. Mau ngapain ya bangun pagi. Sekilas yang terbesit di kepala "kan pagi ini free, istirahat dulu deh mumpung free ujung ujungnya lanjut tidur lagi.

Bangun bangun udah jam 7 aja. Masih santai, merasa ga ada beban. Buka hp, eh baru inget " Loh, hari ini kan ada acara ini, mau ini ya". Haduh..  Langsung buru buru siap siap karna takut ketinggalan. Udah slesai siap siap.    Hubungin yang lain. Eee, bener kan ketinggalan. Ujung ujung nya ya ga jadi pergi. Beneran istirahat seharian ini mah.
Itu contoh kecilnya. Pertanyaanya, aku yang ga jadi berangkat acara, itu memang sudah takdirNya kah?. Atau sebab ketidak[pekaan]ku terhadap rencanaNya. Padahal aku udah dibangunin pagi. Karna aku ga peka, akhirnya aku sama sekali tidak peduli. Dan akhirnya nyesel karna ga jadi berangkat acara. Untuk menyenangkan hati, ngomong sama diri sendiri. Mungkin ini yang terbaik. Sama Allah kamu ga boleh pergi. "Iyakah?".

Mana yang baik, mana yang ga baik?.
Sebenarnya ketika aku mengatakan mungkin ini yang terbaik, emang udah takdir. Lah, bukannya ini takdir yang masih bisa kita rubah. Mana yang baik, mana yang buruk bisa kita lihat dari manfaat dan mudhorot nya. Bukankah kamu bakal lebih beruntung jika kamu berangkat. Yang pastinya kamu bakal dapet ilmu baru. Tapi sayang kamu milih bangun kesiangan, dan membuang kesempatan yang seharusnya kamu dapatkan. Sayang kan!.

Namun bukan berarti kamu harus nyesel, nyesel aja ga cukup! Perlu adanya perbaikan. Udah tau kamu kehilangan kesempatan yang satu. Ambil kesempatan yang lain. Jadikan apa yang tidak dapat kamu peroleh pagi ini memang takdirNya, jadikan ini pilihan yang terbaik. Mungkin saja ini memang pilihan yang terbaik. Buktikan dengan kamu harus menemukan dan mengambil kesempatan yang lain.

Hari itu panjang, ada 24 jam di dalamnya. Waktu yang sangat cukup untuk menemukan kesempatan kesempatan yang lain.

Mungkin kesempatan tidak datang dua kali. Namun ada banyak kesempatan yang menanti.

Menyesallah dengan tidak mengulangi penyesalan itu.
Menyesallah dengan melakukan perbaikan.
_Ƙαɾα_


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengukir Pesona Kartini di Tengah Pandemi COVID-19

Kopri PMII IKHAC Sedikit Tamparan untuk Peremouan Milenial Perempuan Cerdas yang Lahir di Tanah Jawa Hidup Pada Masa Belanda Pejuangn Emansipasi Wanita Harum Namanya . . Ialah Raden Ajeng Kartini. Atau kita bisa memanggilnya R.A. Kartini. Kehidupannya Pada masa itu kurang lebih sama seperti kita sekarang. "sama sama terkurung". Namun perlu kita akui,kebebasan yang kita rasakan sekarang tak lain adalah hasil dari perjuangan perempuan ini. . Adat dipingit yang mengharuskannya tinggal #dirumahaja tidak mematahkan sayapnya. Bahkan dari sini lahirlah karay karya nya yang membuatnya terbang semakin tinggi. Raganya memang terkurung, Namun tidak dengan pikirannya. Ia biarkan pikirannya bebas keliling dunia melalui buku-buku yang ia baca. So, buat temen-temen yang sekarang merasa terkurung, terkekang merasa tidak bisa apa-apa ketika  itu mungkin karna kalian kurang cerdas. Bukankah ini tantangan untuk kita. Bagaimana perempuan-perempuan masih bisa eksis dit...